Membangun Tradisi Ramadhan Keluarga (2)

Lagi scroll-scroll sosmed, ga sengaja nemu konten tentang culture shock suami istri baru di keluarga masing-masing. 

Keluarga istri biasa bangun sahur dan makan sekitar jam 4, mendekati waktu subuh, sementara keluarga suami biasa makan sahur lebih cepat, jam 3an udah sahur. 

Waktu buka juga beda tradisi, si suami biasa berbuka cuma dengan gorengan, while nasi dan lauk pauk baru ada dan disiapkan setelah sholat Tarawih. Sementara di keluarga istri, saat buka semua makanan sudah tersedia lengkap, mulai hidangan pembuka, takjil, gorengan, hingga nasi dan lauk pauk, jadi kalau ada yang mau langsung makan pun udah siap.

Perbedaan tradisi Ramadhan keluarga ini jadi mengingatkan saya waktu menuliskannya minggu lalu, Membangun Tradisi Ramadhan Keluarga

Sadar ga sadar ya, tiap keluarga muslim itu semacam membangun tradisi Ramadhan keluarga sendiri loh. Tradisi Ramadhan tiap keluarga ini pastinya unik, tiap keluarga pasti berbeda dan menyesuaikan dengan akar tradisi yang mereka bawa dari nenek moyangnya, menyesuaikan dengan tradisi Ramadhan yang baru mereka bangun di keluarga kecilnya.

Saat anak-anak pertama kali mengenal puasa dan mencoba ikut berpuasa, itulah saat secara tidak sadar tiap keluarga mulai membangun tradisi Ramadhan keluarga masing-masing.

Dulu di keluarga saya, yang namanya berbuka pasti kami disuguhi aneka makanan manis sejenis kolak, lupis, bubur kampiun, bubur biji salak, bubur kacang ijo, bubur ketan item, dsb. Papa juga suka berbuka dan menyediakan kurma. Kurma favoritnya adalah jenis kurma tunisia yang lembut dan tidak terlalu manis. 





Nah ketika menikah dengan suami, saya masih belum menyadari tradisi Ramadhan di keluarga mereka, rasanya sih standar-standar aja. Baru ketika anak-anak mulai ikut puasa (usia TK), saya baru sadar kalo suami selalu mengenalkan bukaan lontong plus gorengan dengan sambal kacang khas Betawi. 

Tiap kali abis ajak anak-anak ngabuburit dan keliling liat bazar Ramadhan, pasti pulangnya beli, paling jauh beli asinan sayur Betawi 不. Walau suami bukan keluarga Betawi, tapi sepertinya terbawa tradisi sekitar tempat tinggal dan teman-teman mainnya.

Karena terbiasa dikenalkan dengan menu berbuka yang hampir selalu sama oleh suami, anak-anak jadi terbiasa dengan menu itu. Lucunya, kalau saya tawarkan bukaan lain semacam kolak, aneka macam bubur seperti di keluarga saya dulu, seringnya gak laku不. 

Bisa berhari-hari di kulkas, paling saya doang sama Falda yang makan. Lama-lama jadi malas buat menu-menu semacam itu, bikin yang default aja deh yang udah pasti anak-anak dan suami doyan, gorengan! 不

Nah, soal sahur, sebenarnya ada perbedaan juga antara keluarga saya dan suami. Kalau keluarga saya biasa sahur di jam 4, mendekati waktu subuh, supaya ga kelamaan nunggu subuhnya, takut ketiduran kalau sahurnya kecepetan. Sementara keluarga suami biasa sahur di jam 3-3.30. Jadi waktu awal-awal nikah kadang dia suka uring-uringan kalau saya ngajak makan sahurnya mepet subuh 不. 

"Kalau sahurnya mepet subuh, aku ga sempat ngopiii" 不

Eh setelah anak-anak besar sekarang, Faldi yang suka ngopi seperti ayahnya juga akan mulai ribut tiap kali jam 4 kami belum mulai makan sahur. 

"Nanti aku ga sempat ngopi bund" 不不

Ah ada-ada aja ya. Tradisi Ramadhan keluarga memang bisa beda-beda yaa. Bagaimana tradisi Ramadhan di keluarga kalian? Cerita dong 

Komentar

Postingan Populer